Rabu, 13 Februari 2013

Hadiah

Ada seseorang yang masuk dalam kehidupan saya dulu. Dia sangat berarti buat saya karena selain menjadi sumber inspirasi buat saya, dia juga pemicu hidup saya untuk lebih maju. Tapi disaat saya sedang mengalami "proses" itu, dia harus pergi dan meninggalkan saya.

Saya pernah bertanya padanya, kenapa dia harus pergi sewaktu saya masih membutuhkan kehadirannya??? lalu dia menjawab : "Banyak  orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Salah satunya mungkin gue. Gue udah datang untukmemberikan hadiah buat elo. Dan karena tugas gue udah selesai, gue harus pergi..."

Butuh waktu lama buat saya untuk memahaminya, saya masih merasakan ketidak adilan. Setelah sekian lama kata-kata tersebut mengiang ditelinga saya, akhirnya saya dapat menemukan jawabannya dalam sebuah nofel karya Danielle Steel yang berjudul "The Gift" atau hadiah terindah.

Ternyata pesan dalam buku tersebut sama seperti yang pernah diutarakan oleh teman saya, apalagi arti "hadiah" yang saya terima dari novel tersebut semakin membulatkan kesimpulan yang ada.

Dia memang telah memberikan "hadiah" untuk saya yaitu "makna hidup".
Dia telah mengajarkan banyak hal untuk saya, terutama proses pencarian jati diri saya.
Dari yang halal sampai yang haram (bukan arti sebenarnya), dari hal kecil sampai hal besar, dari keangkuhan sampai kesopanan, dari kesendirian sampai cara bersosialisasi, dari sikap bijak sampai sikap kasar
Dari "menyudutkan diri saya" sampai "menganggap diri saya berharga", dari kritikan sampai pujian, dari ceramah sampai debat kusir (karena kami sama-sama sok tua dan keras kepala), dan "dari --- sampai" yang lainnya.

Hal-hal tersebut yang menurut saya berhargasewaktu bersamanya. Saya sadari itu justru ketika disaat-saat terakhir melepas kepergiannya, kadang saya rindu akan kata-katanya, sikapnya and every little things we've done together.

Tidak ada yang dapat menggantikan "hadiah" yang telah dia berikan pada saya, tapi bagaimanapun, saya harus menerima kenyataan yang ada, karenanya saya juga mesti sadar, mungkin dia harus pergi untuk membagi-bagikan banyak "hadiah" kepada orang lain yang akan ditemuinya nanti dimasa yang akan datang.

Pemikiran saya berubah, dari saya yang dulu sama saya yang sekarang setelah menjalani berbagai proses. Akhirnya saya mengerti kenapa dia harus pergi disaat saya masih membutuhkan dia.

Itu karena dia sudah yakin bahwa saya cukup mampu berdiri menghadapi apapun tanpa campur tangan dia lagi, melakukan semuanya tanpa bantuannya lagi, hingga saya terlihat lebih mandiri.


Saya jadi ingin mengajak teman-teman buat mengenang siapa saja sich orang-orang yang telah memberikan hadiah terbesar untuk kalian??

Dan apakah kalian menyadarinya??

Apakah itu orang terdekat seperti sahabat, pacar, keluarga atau guru misalnya.

Bisa jadi pengalaman kalian sama seperti saya, namun kalian baru menyadarinya ketika orang-orang tersebut sudah pergi, tapi apa yang mereka berikan pada kalian sangatlah memberikan arti banyak.

Mungkin itu memang roda kehidupan  yang sudah semestinya terjadi, seperti yang dilagukan Counting Crows dalam penggalan lagu yang dinyanyikannya, "that you don't know what you got till it's gone..."

Bagaimanapun juga apa yang telah kita punyai dan ada disekeliling kita selama ini mungkin adalah hal yang terbaik yang pernah ada, kita akan menyadari itu setelah ada hal buruk menimpa kita atau setelah hal baik itu pergi.

Yaach..., Andai waktu berjalan seperti keong yang tersendat-sendat atau kura-kura yang sangat hati-hati, tentu kita akan memanfaatkannya... Andaikan...!!!

Saya sedikit teringat akan sebuah artikel milik Icha Rachmanti yang berjudul "inspirasi". Ada beberapa bait kalimat yang berkesan buat saya, yaitu : look a lil bit further, search a lil bit longer (for me : wider), jump a lil bit higher and wait a lil bit longer - to get a whole new sight of seeing things.

Memang menurut saya, semua pertanyaan yang belum terjawab itu hanya soal waktu, tapi maukah kita menunggu (denga waktu)? Maukah kita mencari (dengan waktu)? Maukah kita berkorban (dengan waktu) demi menanti sebuah jawaban?

Karena menurut saya, dari waktu kita akan mendapatkan proses yang berkembang menjadi pengertian-pengertian baru akan suatu hal seiring kedewasaan yang kita alami. Pengertian-pengertian itu didapat setelah kita mengalami sesuatu, sehingga kita menyimpulkan fakta dan realita yang ada.

Setelahnya, kita akan paham kejadian diri yang telah kita rasakan dengan penyingkapan yang benar menurut sudut pandang kita.

Dengan adanya waktu yang merupakan "hadiah" terbesar dari Tuhan untuk kita, kita jadi paham bahwa hakikat hidup setiap insan di dunia itu ada masanya. Dan "hadiah-hadiah" yang kita dapatkan dari waktu ke waktu dari Tuhan, seperti kebahagiaan, karier, dan prestasi yang bagus ataupun yang lainnya, harus melewati perjalanan panjang yang berawal dari titik nol, akan ada waktunya harus kembali lagi ke titik nol, dan tidak abadi untuk kita pegang selamanya.

Kita memang tidak bisa memutar waktu, kita juga tidak bisa membalikkan hari untuk kembali dan memanfaatkan moment bersama mereka. Tapi sebetulnya, kita juga bisa membalas dengan memberikan "hadiah" kepada mereka dengan cara kita sendiri, supaya "hadiah" yang telah mereka berikan menjadi lebih bernilai untuk kita, salah satunya adalah "menjaga".

Ya, menjaga apa yang telah kita petik dari kehadiran mereka dan apa yang ingin kita ciptakan ketika bersama mereka agar jangan sampai hilang dari diri kita, apalagi sampai kita rusak.

Dari itu, mungkin kita telah membantu diri kita sendiri untuk lebih maju dan pastinya menghargai jerih payah orang-orang yang telah membangunkan diri kita hingga kita bisa lebih baik dari kemarin sore...



                                                  Thank for my SoulMate - RandyTzu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar