Kamis, 28 Februari 2013

cerita sedih

Kisah Sedih Seorang Ayah | Cerpen Kehidupan Nyata
Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi perni
kahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.


22 tahun yang lalu, ...

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu, ...

Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bisa terbang”. Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

18 tahun yang lalu, ....

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”

17 Tahun yang lalu, ...

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”. Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

15 tahun yang lalu, ...

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu, ...

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. “Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.

Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga. “Sabar ya, Nak!” hiburku. “Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu, ...

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.

Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu, ...

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu, ..

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu, ...

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik?

Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku. “Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. “Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?” “Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!” Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu, ....

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sini. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

“Kania?”
“Mas Har, kau … !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya? Dia..dia . Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … ” Kania berlari ke arah jenazah anakku.

Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu, ...

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu sayang?

Demikianlah artikel dari tentang "Kisah Sedih Seorang Ayah" yang semoga bisa berguna dan bermanfaat untuk sobat pembaca..

Rabu, 13 Februari 2013

Hadiah

Ada seseorang yang masuk dalam kehidupan saya dulu. Dia sangat berarti buat saya karena selain menjadi sumber inspirasi buat saya, dia juga pemicu hidup saya untuk lebih maju. Tapi disaat saya sedang mengalami "proses" itu, dia harus pergi dan meninggalkan saya.

Saya pernah bertanya padanya, kenapa dia harus pergi sewaktu saya masih membutuhkan kehadirannya??? lalu dia menjawab : "Banyak  orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Salah satunya mungkin gue. Gue udah datang untukmemberikan hadiah buat elo. Dan karena tugas gue udah selesai, gue harus pergi..."

Butuh waktu lama buat saya untuk memahaminya, saya masih merasakan ketidak adilan. Setelah sekian lama kata-kata tersebut mengiang ditelinga saya, akhirnya saya dapat menemukan jawabannya dalam sebuah nofel karya Danielle Steel yang berjudul "The Gift" atau hadiah terindah.

Ternyata pesan dalam buku tersebut sama seperti yang pernah diutarakan oleh teman saya, apalagi arti "hadiah" yang saya terima dari novel tersebut semakin membulatkan kesimpulan yang ada.

Dia memang telah memberikan "hadiah" untuk saya yaitu "makna hidup".
Dia telah mengajarkan banyak hal untuk saya, terutama proses pencarian jati diri saya.
Dari yang halal sampai yang haram (bukan arti sebenarnya), dari hal kecil sampai hal besar, dari keangkuhan sampai kesopanan, dari kesendirian sampai cara bersosialisasi, dari sikap bijak sampai sikap kasar
Dari "menyudutkan diri saya" sampai "menganggap diri saya berharga", dari kritikan sampai pujian, dari ceramah sampai debat kusir (karena kami sama-sama sok tua dan keras kepala), dan "dari --- sampai" yang lainnya.

Hal-hal tersebut yang menurut saya berhargasewaktu bersamanya. Saya sadari itu justru ketika disaat-saat terakhir melepas kepergiannya, kadang saya rindu akan kata-katanya, sikapnya and every little things we've done together.

Tidak ada yang dapat menggantikan "hadiah" yang telah dia berikan pada saya, tapi bagaimanapun, saya harus menerima kenyataan yang ada, karenanya saya juga mesti sadar, mungkin dia harus pergi untuk membagi-bagikan banyak "hadiah" kepada orang lain yang akan ditemuinya nanti dimasa yang akan datang.

Pemikiran saya berubah, dari saya yang dulu sama saya yang sekarang setelah menjalani berbagai proses. Akhirnya saya mengerti kenapa dia harus pergi disaat saya masih membutuhkan dia.

Itu karena dia sudah yakin bahwa saya cukup mampu berdiri menghadapi apapun tanpa campur tangan dia lagi, melakukan semuanya tanpa bantuannya lagi, hingga saya terlihat lebih mandiri.


Saya jadi ingin mengajak teman-teman buat mengenang siapa saja sich orang-orang yang telah memberikan hadiah terbesar untuk kalian??

Dan apakah kalian menyadarinya??

Apakah itu orang terdekat seperti sahabat, pacar, keluarga atau guru misalnya.

Bisa jadi pengalaman kalian sama seperti saya, namun kalian baru menyadarinya ketika orang-orang tersebut sudah pergi, tapi apa yang mereka berikan pada kalian sangatlah memberikan arti banyak.

Mungkin itu memang roda kehidupan  yang sudah semestinya terjadi, seperti yang dilagukan Counting Crows dalam penggalan lagu yang dinyanyikannya, "that you don't know what you got till it's gone..."

Bagaimanapun juga apa yang telah kita punyai dan ada disekeliling kita selama ini mungkin adalah hal yang terbaik yang pernah ada, kita akan menyadari itu setelah ada hal buruk menimpa kita atau setelah hal baik itu pergi.

Yaach..., Andai waktu berjalan seperti keong yang tersendat-sendat atau kura-kura yang sangat hati-hati, tentu kita akan memanfaatkannya... Andaikan...!!!

Saya sedikit teringat akan sebuah artikel milik Icha Rachmanti yang berjudul "inspirasi". Ada beberapa bait kalimat yang berkesan buat saya, yaitu : look a lil bit further, search a lil bit longer (for me : wider), jump a lil bit higher and wait a lil bit longer - to get a whole new sight of seeing things.

Memang menurut saya, semua pertanyaan yang belum terjawab itu hanya soal waktu, tapi maukah kita menunggu (denga waktu)? Maukah kita mencari (dengan waktu)? Maukah kita berkorban (dengan waktu) demi menanti sebuah jawaban?

Karena menurut saya, dari waktu kita akan mendapatkan proses yang berkembang menjadi pengertian-pengertian baru akan suatu hal seiring kedewasaan yang kita alami. Pengertian-pengertian itu didapat setelah kita mengalami sesuatu, sehingga kita menyimpulkan fakta dan realita yang ada.

Setelahnya, kita akan paham kejadian diri yang telah kita rasakan dengan penyingkapan yang benar menurut sudut pandang kita.

Dengan adanya waktu yang merupakan "hadiah" terbesar dari Tuhan untuk kita, kita jadi paham bahwa hakikat hidup setiap insan di dunia itu ada masanya. Dan "hadiah-hadiah" yang kita dapatkan dari waktu ke waktu dari Tuhan, seperti kebahagiaan, karier, dan prestasi yang bagus ataupun yang lainnya, harus melewati perjalanan panjang yang berawal dari titik nol, akan ada waktunya harus kembali lagi ke titik nol, dan tidak abadi untuk kita pegang selamanya.

Kita memang tidak bisa memutar waktu, kita juga tidak bisa membalikkan hari untuk kembali dan memanfaatkan moment bersama mereka. Tapi sebetulnya, kita juga bisa membalas dengan memberikan "hadiah" kepada mereka dengan cara kita sendiri, supaya "hadiah" yang telah mereka berikan menjadi lebih bernilai untuk kita, salah satunya adalah "menjaga".

Ya, menjaga apa yang telah kita petik dari kehadiran mereka dan apa yang ingin kita ciptakan ketika bersama mereka agar jangan sampai hilang dari diri kita, apalagi sampai kita rusak.

Dari itu, mungkin kita telah membantu diri kita sendiri untuk lebih maju dan pastinya menghargai jerih payah orang-orang yang telah membangunkan diri kita hingga kita bisa lebih baik dari kemarin sore...



                                                  Thank for my SoulMate - RandyTzu

Minggu, 03 Februari 2013

wajib di baca untuk orang yang mempunyai sesuatu yang berharga dalam hidupnya!

Jam 19:15 ditelpon
Cewek : sayang, aku udah pulang, kamu jemput aku yach?
Cowok : kamu udah pulang? Koq gak ngabarin sih? Aku lagi ada acara sama temen, sejam lagi yach.
Cewek : iyah, gak apa-apa sayang, aku tungguin.
Cowok : lagian kamu pulang kok ndadak sih, gak ngasi tau lagi...
Cewek : maaf sayang, kakak lagi di kantor, mama lagi sakit, lagi pula kan pengennya yang pertama kali aku liat itu kamu, maaf kalo nyusahin kamu... :(
Cowok : iyah gak apa-apa, tunggu 45 menit yach.
Cewek : hallo sayang, yach kok mati sih hapenya.

(Ngeliat hp nya terus bunyi , si cowo pun mematikan hpnya)

Jam 22:00 setelah acara temannya selesai si cowok pun langsung menjemput ceweknya. Tapi tidak ketemu. Dia mengaktifkan hpnya, ada 5 sms yang diabaikan.

Si cowok menelepon ceweknya dan hpnya sudah tidak aktif lagi.
 
"Kalo soal tidak dijemput kenapa pakai matiin hp sih"

Si cowok pun menuju kerumah ceweknya namun tidak ada orang, dia pun ingin pulang namun terhenti ketika mobil ambulance datang...

Kakak si cewek : kemana aja kamu bangsat!! Adik ku di rampok, dia nungguin kamu, bukan menunggu kematiannya! Berkali-kali aku sms dia untuk segera pulang, tapi dia tetep bersikeras nungguin kamu! Kalo gini jadinya siapa yang kehilangan dia, bukan km!! Tapi kita semua!!

Si cowok pun hanya diam mematung tanpa suara, dia membuka sms dari si cewek

20:25 sayang kok hp nya dimatiin?

20:30 sayang udah belum acaranya?

20:40 sayang ada yang merhatiin aku!!

20:45 aku takut, kamu dimana sayang?

20:50 ya udah, aku pulang sendiri, sebenernya aku pulang cuma mau ngucapin happy anniversary buat hubungan kita, makanya gak mau dijemput oleh siapapun. Makasih sayang buat waktu 2 tahunnya. I Love You. maafin aku sayang.

Ini cerita yang harus kita lihat dan kita renungkan. Jaga apa yang kamu miliki sekarang. Sebelum akhirnya kamu nyesel karena dia udah nggak ada.